fbpx
Adi Nugroho
Blog ini di update rutin setiap hari Senin-Jum'at. Menyajikan informasi seputar Dunia Bisnis, Entrepreunership, Motivasi & Pengembangan diri. Semoga bermanfaat buat Anda semua!

5 sebab kamu tidak akan bisa KAYA sampai tua

tidak bisa kaya

“Jika Anda tidak menemukan cara untuk menghasilkan uang ketika Anda tidur, Anda akan bekerja sampai Anda mati,” Begitulah kira-kira salah satu kutipan dari legenda sang investor kaya raya di dunia Warren Buffett.

Kebutuhan hidup dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan namun selalu saja tidak dibarengi dengan kenaikan jumlah income yang signifikan. Hal ini akan menjadi masalah dikemudian hari ketika kita akan menyongsong hari tua kelak.

Lebih bahaya lagi jika income kita cuma tumbuh 4% per tahun artinya kita mungkin tidak bisa untuk menyisihkan berinvestasi setelah kebutuhan pokok terpenuhi. Dan itu akan sesuai dengan kutipan dari Warren Buffet “Jika Anda tidak menemukan cara untuk menghasilkan uang ketika Anda tidur, Anda akan bekerja sampai Anda mati”.

Disisi lain sebuah survei yang dilakukan oleh Bank HSBC Indonesia bertajuk Future of Retirement, Bridging the Gap juga mengungkapkan dari 68 persen responden yang menginginkan masa tua yang nyaman, hanya 30 persen saja yang telah sadar dan tergerak untuk mulai berinvestasi untuk masa pensiun mereka.

Head of Wealth Management PT Bank HSBC Indonesia, Steven Suryana mengatakan “Masa pensiun merupakan saat seseorang idealnya menikmati masa istirahat bersama keluarga setelah bertahun-tahun bekerja. Namun hal ini harus direncanakan dengan matang sedari dini. Sayangnya kesadaran ini biasanya timbul saat kita sudah mendekati masa pensiun,”.

“Yang juga mengkhawatirkan adalah terdapat lebih dari 3/4 responden usia kerja mengharapkan anaknya akan membantu mereka di masa pensiun, sedangkan kenyataannya saat ini hanya kurang dari 1/3 responden usia pensiun menerima bantuan dari anaknya,” (Merdeka.com, 12 Februari 2019).

Wajar saja jika survei diatas menyebutkan demikian karena itulah fakta yang terjadi di tanah air tercinta ini. Kebanyakan orang di usia kerja tidak siap secara finansial ketika menyongsong hari tuanya kelak. Dan pelan-pelan melahirkan sebuah Generasi Sandwich.

Generasi Sandwich adalah sebuah kondisi dimana sebuah keluarga ataupun seorang individu yang terlalu berat menanggung beban finansial baik itu untuk diri sendiri, istri & keluarga kecil beserta anak-anak dan juga orang tuanya yang tidak memiliki penghasilan lagi.

Pertanyaan penting yang perlu ditanyakan adalah mengapa penghasilan dan pemasukan kita tidak bisa tumbuh signifikan ketika kita masih di usia produktif?

Melalui sajian Blog di pagi hari ini kita akan mengupasnya satu demi satu.

Setidaknya ada beragam faktor penting yang menyebabkan orang gagal menjadi kaya hingga di usia tuanya kelak. Namun kali ini kita akan rangkum menjadi 5 faktor mendasar yang wajib kita jadikan bahan renungan kedepannya:

#1 Sikap Pesimis

Banyak diantara kita yang masih mempunyai sikap pesimis dalam setiap tindakan dihidupnya. sebenarnya ini hanyalah perkara mindset yang kita biasakan sejak lama dan tidak disadari menjadi kebiasaan buruk yang akan berpengaruh dihari tua kita kelak.

Semisal: Mau bisnis apa ya. Tapi modalnya gak ada. Ada orang yang menawarkan bantuan untuk modal. Terus bingung pemasarannya gimana ya? Ah sudahlah mungkin “Saya tidak ada bakat untuk berbisnis”.

Aduh! Hidup kok gini amat ya. Cicilan KPR rumah gak lunas-lunas lagi. Gaji dan tunjangan kok gak naik-naik juga padahal udah 3 tahun bekerja. “Sialan emang Atasan ini, Mungkin saya tidak akan dilirik untuk dipromosikan”

Deretan contoh diatas adalah “negative thinking” yang mungkin bisa mewakili dari sikap pesimis itu sendiri. Perkataan semacam itu akan menjadi sugesti dan racun yang membuat penyakit mental akan sulit disembuhkan dalam menapaki perjalanan lika-liku kehidupan ini.

Disini berlaku hukum tarik menarik: “Apa yang kamu pikirkan adalah Apa yang akan kamu dapatkan”. Dari pada memikirkan suatu perkara selalu dari kacamata negatif yang nantinya akan menjadi kenyataan dan merasakan bagai menelan pil pahit kehidupan, Lebih baik alihkan untuk mengedepankan sikap yang Optimis.

Orang yang optimis akan jauh lebih fokus pada peluang dan harapan ketimbang orang dengan mentalitas pesimis yang fokus pada ketidakmampuan diri dan minder. Ujung-ujungnya tidak mau bergerak dari kondisi yang dihadapi.

Orang dengan sikap optimis dia mempunyai semacam keyakinan yang menggerakkan dari dalam dirinya untuk tetap terus bergerak meraih peluang tersebut. Dia selalu merasa mampu untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang dilaluinya serta dapat merumuskan SOLUSI JITU dari beragam problem roller coaster kehidupan ini.

#2 Skills yang Tidak Mumpuni

Ada satu riwayat hadits “Nabi Sulaiman diberi pilihan antara harta, kerajaan, atau ilmu. Maka, Nabi Sulaiman memilih ilmu. Lalu dengan sebab memilih ilmu (pada akhirnya) ia diberi kerajaan dan harta.” (HR. Ibnu ‘Asakir dan ad-Dailami).

Berdasarkan dari hadits tersebut yang dapat kita simpulkan adalah untuk meraih apapun dalam kehidupan ini maka diperlukan suatu pengetahuan/ilmu atau skills yang mumpuni.

Sebuah fakta yang mengejutkan bahwa ternyata untuk meraih penghasilan yang kita inginkan diperlukan kunci untuk membuka pintu rejeki yang berkah tersebut. “Kunci tersebut adalah ILMU”.

Ilmu atau skill yang kita miliki sebenarnya merepresentasikan penghasilan yang akan kita raih saat ini hingga kedepannya.

Jadi jika penghasilan atau gaji yang kita terima masih belum sesuai harapan tidak perlu menyalahkan pihak lain, Seperti mencari kambing hitam ditengah-tengah kawanan kambing putih.

Lebih baik melihat ke dalam diri dan lakukan pengukuran sejauh mana kemampuan keilmuan yang sudah kita miliki. Dan apakah kemampuan atau skill tersebut mengalami kemajuan yang signifikan dalam 1 tahun terakhir?

“Keep Hungry to Learning and Always Enjoy The Process”

#3 NATO: Not Action Talk Only

Kalau bahasa jaman sekarang Bacot doang digedein! Namun tidak pernah bertindak untuk melakukan sebuah perubahan. Intinya kebanyakan mikir ketimbang melakukan sebuah tindakan yang akhirnya terjebak dalam sebuah impian yang tak kunjung terealisasikan.

Akhirnya kembali lagi kedalam kehidupan yang penuh duka nestapa dan air mata yang sudah kering tak mampu lagi untuk menetes.

Kondisi seperti ini disebabkan oleh terlalu banyaknya mikir dengan analisa yang dikonsumsi dari berbagai macam media online dan media sosial. Akibatnya terjadi penumpukan informasi yang membuat kita menjadi ragu dan stuck untuk bertindak dikarenakan bingung dan berputar-putar dalam analisa yang tak kunjung usai.

Alm Bob Sadino pernah berujar tatkala beliau masih hidup “Kalau mau berbisnis Lakukan saja” jangan kebanyakan mikir informasi yang kita konsumsi hanya akan menjadi sejumlah sampah jika tidak disertai tindakan yang nyata. Perjalanan hidup Alm. Bob Sadino dalam Membangun sebuah bisnis bisa dibaca disini.

#4 Persistensi yang Lemah

Ada sebuah ungkapan yang layak kita renungkan bersama untuk kehidupan kita agar dapat berubah lebih baik lagi kedepannya yakni:

“Sukses adalah Sembilan kali perjalanan jatuh & Sepuluh kali pula mampu bangkit untuk terus melanjutkan sebuah perjalanan”

Artinya tidak ada jalan instan dalam mencapai sebuah kesuksesan untuk menggapai kemakmuran finansial dipenghujung usia. Dibutuhkan proses serta kekuatan struggle dan alasan yang reasonable untuk melakukan itu semua.

Namun sayangnya perilaku sebagian orang di era internet yang serba cepat ini membuat dampak ke sisi negatif yakni keinginan untuk mendapatkan sesuatu secara instan.

Bagaimana tidak saat ini orang banyak disibukkan dan asyik untuk melihat informasi. Mau cari sesuatu tinggal googling lalu klik dan klik kemudian scrollup-scrolldown. Lihat update status media sosial dan sebagainya.

Dampak perilaku ini membuat kita menjadi dimanjakan oleh segudang informasi yang dengan mudah kita peroleh. Impilikasi dari perilaku tersebut berlawanan terhadap proses dan kesabaran dalam menjalani kehidupan untuk menjadi kaya dan bebas secara finansial.

Fatalnya perilaku tersebut tidak kunjung kita sadari & kita lakukan berulang kali hari demi hari dalam tingkatan repetisi yang kian meningkat.

#5 Mental Blocking

Pasti bagi sebagian orang ada yang beranggapan bahwa “Harta itu tidak dibawa mati”. Ngapain ngoyo-ngoyo cari harta sebanyak apapun hingga 7 turunan kalo mati pun yang dibawa cuma sehelai kain putih di liang lahat.

Anggapan seperti itu sejatinya tidak sepenuhnya benar namun juga tidak sepenuhnya salah. Lah kok bisa?

Sesungguhnya kekayaan itu bisa dibawa mati apabila kita membelanjakan harta kita itu untuk beramal seperti menyantuni anak yatim piatu, membangun fasilitas ibadah, memberangkatkan kedua orang tua untuk berhaji atau umroh ke tanah suci dan lain sebagainya.

Dengan kekayaan dan harta yang berlimpah kita mampu menolong lebih banyak lagi sesama dan menjadi manfaat bagi sebagian makhluk yang tuhan ciptakan. Dengan cara seperti itulah kekayaan dan harta akan menerangi kita di alam kubur apabila kita membelanjakannya dengan jalan yang mulia.

Anggapan seperti “Harta itu tidak dibawa mati, dan seolah jika kaya sama dengan hedonisme untuk hidup berfoya-foya adalah KEKELIRUAN YANG FATAL”. Inilah cerminan mental blocking yang malahan bisa menghambat kita mendapatkan curahan rejeki dari tuhan yang maha kuasa.

kenapa?

Karena persepsi alam bawah sadar kita membuatnya demikian. Seolah olah menjadi kaya adalah sesuatu yang buruk dan layak di jauhi. Jadi jika sampai detik ini hidup kita masih stuck dan tak kunjung kaya bisa jadi mindset kita ada yang salah dalam mempersepsikan kekayaan tersebut.

Demikianlah lima faktor penyebab utama kegagalan dalam meraih kekayaan yang sangat miris sekali apabila terjadi hingga di usia senja kita. Lima penyebab yang bisa kita rangkum tersebut adalah:

  1. Sikap Pesimis
  2. Skills yang Tidak Mumpuni
  3. Not Action, Talk Only
  4. Persistensi yang lemah
  5. Mental Blocking

Akhir kata dengan segala kerendahan hati semoga tulisan sederhana ini bisa menjadi cambuk dan manfaat bagi kita semua dalam menggapai kebebasan finansial dan kaya raya di penghujung usia. Amin!

copywriting

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *